Jagalah Mahkota Muliamu
Betapa mulianya seorang muslimah, sehingga Allah mengabadikan
namanya pada salah satu surat di dalam Al-Quran yaitu An-Nisa yang berarti
wanita atau perempuan. Ketika kita menyadari bahwa fitrah kita sebagai muslimah,
dan menjadi makhluk yang paling indah di dunia ini,kemudian Allah memberikan
karunia dan hidayah pada kita, maka inilah hal yang paling indah dalam hidup.
Namun sayang, banyak dari kita yang tidak menyadari dan peduli betapa
berharganya dirinya. Sehingga banyak dari kita yang merendahkan diri dan
meninggalkan rasa malunya. Sementara Allah menjadikan rasa malu itu sebagai
mahkota kemuliaannya.
Sebaik-baiknya
akhlak seorang muslimah adalah ia yang memiliki rasa malu. Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah
rasa malu." (HR. Ibnu Majah no. 4181. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa
hadits ini hasan).
Ibnu
Abi Syaibah dalam kitabnya mengutip hadits mauquf dari Ibnu Umar r.a bahwa
beliau berkata,
الْحَيَاءُ وَالْإِيمَانُ قُرِنَا جَمِيعًا، فَإِذَا رُفِعَ
أَحَدُهُمَا رُفِعَ الْآخَرُ
“Sifat malu dan iman disandingkan
secara bersama, jika salah satunya terangkat atau hilang, maka hilang pulalah
yang lainnya”.
Begitu jelas, jika rasa malu adalah identitas akhlak islam. Malu
tidak boleh terlepas dari keimanan. Terkhusus bagi seorang perempuan muslimah,
rasa malu adalah mahkota kemuliaan bagi dirinya. Apabila rasa malu telah
tercabut pada diri seseorang maka ia akan larut dalam kubangan maksiat sehingga
keimanannya akan terkikis bahkan tercabut ketika maksiat sudah dihalalkannya.
Namun sayang, di era sekarang rasa malu itu sudah pudar, sehingga hakikat
perempuan yang awalnya menjadi perhiasan dunia atas keshalihahannya sekarang
tak begitu bermakna.
Allah
Ta’ala menceritakan salah satu anak perempuan dari seorang ayah suku
Madyan. Allah berfirman,
فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ
“Kemudian datanglah kepada Musa
salah seorang dari kedua perempuan itu berjalan dengan malu-malu.” (Qs.
Al-Qasas: 25)
Maksudnya, dia (gadis) itu datang dengan mengemban tugas dari
ayahnya, berjalan dengan cara berjalannya seorang gadis yang suci dan terhormat
ketika menemui kaum laki-laki, tidak seronok, tidak genit, tidak angkuh, tidak
tebar pesona, tidak mudah terbawa perasaan (baper), dan tidak membuat lelaki
bergairah kepadanya.
Namun di zaman ini malah sebaliknya, perempuan lebih mementingkan
popularitas dibanding memperbaiki akhlak, berlomba-lomba memperbaiki dan memoles
wajahnya secantik mungkin, bahkan mengobral harga dirinya hanya untuk
mendapatkan kesenangan dunia. Naudzubillahi min dzalik. Semoga Allah
menjaga diri dan keluarga kita dari berbagai perbuatan yang menyebabkan
hilangnya malu.

❤️❤️❤️😍
BalasHapus